SMKN 1 Sagaranten Luncurkan Mobile Training Service

SMKN 1 Sagaranten Luncurkan Mobile Training Service

Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh bagian dunia dan memaksa bayak sektor untuk menghentikan kegiatan, termasuk sektor pendidikan. Penyebaran Covid-19 yang di Indonesia masih belum menunjukkan penurunan jumlah korban memaksa sekolah untuk tidak melaksanakan kegiatan tatap muka di sekolah. Pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan memutuskan untuk menghentikan pembelajaran tatap muka di sekolah. Hal ini dimaksudkan agar sekolah tidak menjadi klaster penularan virus yang berbahaya ini.

Bagi sekolah tingkat sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah menengah atas, pembelajaran online mungkin dapat terlaksana dengan efektif, mengingat pelajaran di sekolah ini tidak menuntut pembelajaran praktikum yang banyak. Kendala yang dihadapi mungkin hanya masalah kuota internet, ketidakmampuan membeli gadget, atau kendala koneksi.

Berbeda dengan sekolah nonkejuruan, SMK menuntut adanya pelatihan praktik kejuruan. Pelatihan kejuruan diberikan dalam bentuk pelayanan praktikum sesuai dengan kelompok kompetensi keahlian yang dipilih. Pelaksanaan pelayanan pelatihan praktik tidak memungkinkan dilaksanakan melalui media online, pelatihan memerlukan obyek konkrit baik bahan, alat, maupun pelaksanaanya. Kekosongan pelatihan kompetensi kejuruan dapat mengakibatkan hilangnya pembeda antara sekolah kejuruan dan sekolah non kejuruan. Esensi sekolah kejuruan adalah penguasaan kompetensi kealian yang tidak memungkinkan diperoleh secara online.

Sekolah kami memiliki 3 unit mobil. Mobil tersebut dibeli dari uang hasil sumbangan masyarakat. Sejak awal pandemi Covid-19 mobil tersebut tidak dioperasikan. Karena mobil tersebut berasal dari sumbangan masyarakat, maka penulis berfikir bahwa mobil-mobil ini harus dipergunakan untuk melayani masyarakat. Berdasarkan pemikiran itu maka diluncurkanlah program Mobile Training Service (MTS). Program ini bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada peserta didik berkaitan dengan kebutuhan praktik kompetensi kejuruan.

  1. Dengan Mobil Training Service siswa dapat mengaplikasikan teori kejuruan yang diperoleh melalui pembelajaran daring ke dalam praktik komptetensi keahlian yang konkret. Pada kegiatan ini siswa dilatih kompetensi kejuruan dalam kegiatan praktik penerapan teori yang didapat pada kegiatan yang nyata sesuai pelaksanaan sebenarnya
  2. Guru dapat melaksanakan pembelajaran praktik tanpa harus mahir menyajikan pembelajaran praktik melalui jejaring. Di samping harus melaksanakan praktik, kegiatan pembelajaran melelui jejaring menuntut guru untuk menguasai teknologi informasi dan jaringan. Hal tersebut akan menyita waktu. Melalui kegiatan Mobile Training Service satu langkah penyiapan teknologi jejairng dapat terlewati sehingga guru lebih fokus pada kegiatan pelayanan praktik.
  3. Orangtua tidak khawatir anaknya melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat di luar rumah. Belajar tanpa bimbingan guru adalah sesuatu hal yang menjemukan bagi siswa, saat mereka menemui kesulitan tidak dapat bertanya langsung kepada guru. Hal ini akan mengakibatkan siswa tenggelam dalam kejenuhan. Tidak jarang mereka mengabaikan tugas belajar daring. Untuk menghilangkan kejenuhan tidak jarang mereka ke luar rumah yang membuat orangtua khawatir anaknya melakukan kegiatan yang kurang bermanfaat.

Memotivasi Stakeholder pendidikan untuk berinovasi dalam memberikan pelayanan kepada peserta didik. Pada masa pandemi guru diperbolehkan mengajar dari rumah. Akan teteapi dengan waktu yang terlalu lama mereka akan terbiasa dengan keadaan tesebut. Efeknya akan membuat para praktisi pendidikan kehilangan inovasi dalam memeberikan pelayanan kepada siswa. Mobile Trainig Service dapat mengatasi hal tersebut karena dengan mengunjungi dan berinteraksi langsung dengan siswa guru akan mendapat inspirasi untuk berinovasi dalam cara melayani siswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *